Headlines News :
Showing posts with label Economics. Show all posts
Showing posts with label Economics. Show all posts

Tabel Gaji PNS, TNI dan POLRI 2012

Written By abah lc on Thursday, February 16, 2012 | 9:59 PM





JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara serentak pada tanggal 6 Februari lalu telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 15, 16 dan 17 Tahun 2012 tentang Perubahan Gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan anggota Kepolisian Republik Indonesia.
Dikutip dari laman Setkab, Kamis (16/2/2012), dengan keluarnya PP baru itu, kini gaji pokok terendah PNS sebelum remunerasi adalah Rp 1.260.000 (untuk golongan 1a masa kerja 0 tahun), anggota TNI dan Polri adalah Rp 1.325.000 (untuk prajurit satu dan bhayangkara dua dengan masa kerja 0 tahun).
Gaji tersebut di luar tunjangan keluarga yang besarnya untuk istri/suami 10% dari gaji pokok dan anak 2% dari gaji pokok, tunjangan pangan sebesar nilai beras per 10 kg/orang,  tunjangan jabatan untuk pejabat struktural maupun fungsional, tunjangan umum untuk yang tidak memegang jabatan struktural maupun fungsional .
“Ketentuan mengenai gaji baru PNS berlaku mulai 1 Januari 2012,” bunyi Pasal 1 Ayat 2 PP No. 15/2012.
Hal yang sama juga berlaku untuk gaji baru anggota TNI dan Polri sebagaimana bunyi Pasal 1 ayat 2 PP No. 16/2012 dan Pasal 1 ayat 2 PP No. 17/2012.
Dalam diktum menimbang dari PP No. 15, 16 dan 17 itu disebutkan, bahwa dasar perubahan gaji PNS, TNI dan Polri adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna, serta kesejahteraan PNS, anggota TNI dan Polri.
Dalam lampiran PP No. 15/2012 disebutkan, gaji pokok terendah untuk PNS Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun adalah Rp 2.046.100 (sebelumnya Rp 1.902.300) dan tertinggi IIId dengan masa kerja 32 tahun adalah Rp 3.742.300 (sebelumnya Rp 3.332.000).
Sedang untuk golongan IVa masa kerja 0 tahun adalah Rp 2.436.100 (sebelumnya Rp 2.245.000), sedang tertinggi untuk golongan IVe masa kerja 32 tahun adalah Rp 4.608.700 (sebelumnya Rp 4.100.000).
Untuk prajurit dua TNI atau bhayangkara Polri dengan masa kerja 0 tahun sesuai PP No. 16/2012 dan PP No. 17/2012 gaji pokoknya) adalah Rp 1.325.000 (sebelumnya Rp 1.230.000). Sedang prajurit TNI dengan pangkat kopral kepala atau prajurit Polri dengan pangkat ajun brigadir polisi dengan masa kerja 32 tahun menerima gaji pokok sebesar Rp 2.365.600 (sebelumnya Rp 2.134.600).
Adapun perwira pertama TNI dengan pangkat letnan dua atau inspektur polisi dua masa kerja 0 tahun menerima gaji pokok Rp 2.198.400 (sebelumnya Rp 2.032.100).
Sementara perwira TNI dengan pangkat kapten atau ajun komisaris polisi dengan masa kerja 32 tahun memperoleh gaji pokok Rp 3.803.100 (sebelumnya Rp 3.385.000).
Untuk perwira tinggi TNI dengan pangkat Brigjen, Laksamana Pertama atau Marsekal Pertama dan Polri dengan pangkat Brigjen dengan masa kerja 0 tahun  menerima gaji pokok Rp 2.644.400.
Sedangkan perwira tinggi TNI dengan pangkat Laksama, Jendral dan Marsekal atau dengan Polri dengan pangkat Jendral dengan masa kerja 32 tahun memperoleh gaji pokok Rp 4.717.500 (sebelumnya Rp 4.072.000). tribunnews .com

Ekspor Kamaboko-ita dan Gomaki ke Jepang Tetap Lancar

Written By abah lc on Monday, February 13, 2012 | 3:44 AM


Purbalingga, Humas – Meski wilayah Jepang tengah dilanda bencana gempa bumi disertai tsunami dan bahaya radiasi nuklir Fukushima, namun ekspor produksi Kamaboko-ita (tatakan makanan ikan yang diolah) dan Gomaki (alat sembahyang) untuk orang Jepang, tetap jalan terus. Kamaboko-ita dan Gomaki diproduksi oleh PT N.Y.P. Woodwork — perusahaan PMA yang sahamnya dimiliki Yamagashi Woodworking Ltd. (Jepang) dan beroperasi di Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga (Jateng).
Kenzaburo Sugimoto, pemilik dan Presiden Direktur (Presdir) N.Y.P. Woodwork, menjelaskan, permintaan ekspor ke Jepang masih tetap dan tidak terpengaruh bencana tsunami di Jepang. Dalam satu bulan, setidaknya mengirimkan enam kontainer Kamaboko-ita dan Gomaki dengan nilai ekspor selama setahun antara 800 juta Yen hingga 1 milyar Yen.
”Ekspor produk kami tidak terpengaruh. Kami masih lancar mengirimkan Kamaboko-ita dan Gomaki ke Taiwan dan Jepang,” ujar Kenzaburi Sugimoto, Senin (21/03/2011).
Disebutkan Kenzaburo, selain produk utama Kamaboko-ita dan Gomaki, pihaknya juga memproduksi segala kemasan kayu yang sangat halus olahannya, seperti kotak sake, kotak cokelat dan kotak perhiasan. ”Produk olahan tersebut semuanya untuk memenuhi sebagian besar pasar Jepang, dan sebagian kecil ke Taiwan. Produk kami kendalanya hanya pada ketersediaan bahan baku berupa kayu pinus yang sangat terbatas,” kata Kenzaburo. (Humas/y)
http://www .purbalinggakab.go.id/teknologi-industri/ekspor-kamaboko-ita-dan-gomaki-ke-jepang-tetap-lancar

Industri Rambut Palsu Terbesar No. 2 Di Dunia

Kabupaten Purbalingga mulai tahun 2008 adalah untuk membangun dirinya sebagai pusat manufaktur rambut dan bulu mata palsu kedua di dunia, setelah Gwangju, Korea Selatan. Purbalingga kini memiliki 18 industri manufaktur dan rambut bulu palsu, semua datang dari modal asing, dan telah menyerap 30.000 pekerja.

Kepercayaan itu, menurut Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko, muncul pekan lalu ketika dia diundang oleh para pengusaha Korea Selatan mengunjungi sejumlah wig-membuat industri di Korea Selatan. "Dari hasil kunjungan itu, saya percaya industri wig Purbalingga adalah industri ramput palsu nomor satu di Indonesia, serta kedua di dunia setelah Gwangju," katanya, Sabtu (12 / 7). Kabupaten Purbalingga keberhasilan pemerintah menarik investor asing dari industri wig, katanya, bisa menjadi citra tersendiri bagi Purbalingga yang hanya dikenal sebagai satu kota kecil di Jawa Tengah. "Foto atau citra sebagai kota rambut palsu, setidaknya akan menjadi ikon tersendiri bagi kota kecil seperti Purbalingga ini," lanjutnya.

Dalam hal pendapatan, Bupati Purbalingga mengakui, keberadaan 18 investor asing hampir tidak ada kontribusinya terhadap Purbalingga, selain hanya pajak bumi bangunan. Sisanya dari pajak ekspor untuk setiap produk diekspor ke negara-negara lain, banyak dinikmati oleh pemerintah pusat.

Namun, PMA adalah 18, katanya, bisa memberikan jalan keluar dari kekacauan yang dialami pengangguran selama ini Purbalingga. Oleh karena itu, kami tetap mendukung investasi asing yang dapat memberikan lapangan kerja dalam jumlah besar. "Misalnya, seperti sekarang, telah menyerap 30.000 orang dalam pembuatan wig industri," katanya.

Kepala Humas Pemkab Purbalingga Djoko Triwinarso mengatakan, selain 18 asal luar negeri Korea Selatan bergerak di bidang usaha pembuatan wig, Purbalingga juga memiliki satu lagi PMA dari Jepang bergerak dalam usaha pembuatan alat-alat kayu.

Dari 19 PMA, lanjutnya, telah meningkatkan nilai investasi asing selama tahun pada tahun 2007 kemarin Purbalingga, yang naik menjadi Rp 39 miliar, atau naik sekitar 37 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2002-2007 saja, Kabupaten Purbalingga disetujui tujuh proyek PMA dengan nilai 6830000000 dolar AS, dan sekarang dapat menyediakan lapangan kerja untuk 3726 orang. dn-Buruh_Rambut

Bersamaan, Purbalingga telah melakukan tujuh proyek lain FDI senilai US $ 7725000000 dan telah menyediakan lapangan kerja bagi 3.433 orang. "Sebagian besar semua proyek asing, rata-rata orang dapat menyerap 575 pekerja. Jumlah itu jauh di atas rata-rata kerja di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta, "jelasnya.
http://www.purbalinggakab.go.id/teknologi-industri/industri-rambut-palsu-terbesar-no-2-di-dunia

Menelusuri Bisnis Esek-esek di Purwokerto (2)

Written By abah lc on Saturday, February 11, 2012 | 5:38 PM

Gadis Persembahan untuk Pelicin Relasi

SABTU (18/11) siang pekan lalu, saya sengaja diajak seorang teman untuk menemani relasi bisnisnya yang baru datang dari luar kota. Sebut saja Bay (25), yang bekerja di sebuah perusahaan jasa penjualan sepeda motor dan mobil di Purwokerto. Relasinya yang berjumlah tiga orang datang ke Kota Satria ini untuk mengecek hasil penjualan barang dan meminta laporan bulanan.
Karena sebulan terakhir ini penjualan barang sedang lesu, dia tak kurang akal agar sang pimpinan di kantor pusat atau tim pengecek tidak kecewa.
Kalau dia sekadar melaporkan hasil perdagangan senyatanya, mungkin bisa mendapat peringatan atau penilaian minus. Lalu, diajaklah tim tersebut untuk pertemuan di sebuah rumah makan. Dari sana, pembicaraan sudah melebar sampai ke banyak hal. Termasuk kedatangan tim ini yang juga membutuhkan waktu istirahat dan suasana segar.
Setelah tamunya masuk ke hotel di kawasan Baturraden, dia meminta saya menemani rekannya di sebuah tempat hiburan di kawasan kota. Dari pertemuan dengan lelaki bertubuh gempal, Bay mengutarakan maksudnya. ''Aku butuh tiga gadis. Bisa kan carikan,'' pintanya.
Lelaki itu menimpali. ''Mau yang mahasiswa, pelajar, SPG atau STW (setengah dewasa),'' jawabnya.
Karena tim yang datang itu berumur bervariasi antara 30-40 tahun, disepakatilah mahasiswi dua dan satu SPG. Seusai shalat Magrib, pertemuan diatur. Tiga gadis persembahan itu (begitu sebutan pelicin bisnis-relasi) kemudian diantarkan lelaki gempal tersebut ditemani Bay ke rumah makan yang tak jauh tempat mereka menginap. Setelah cocok di harga dan penampilan para gadis, lelaki gempal yang dikenal sebagai kontak jaringan para gadis persembahan itu kemudian pamit.
Karaoke
Seusai makan, untuk menghidupkan suasana, dilanjut ke tempat karaoke, menyewa sebuah ruangan khusus. Setelah suasana keakraban yang penuh kehangatan antara relasi Bay dan gadis-gadis penakluk ini terjalin, saya dan dia meninggalkannya. ''Ntar kalau sudah selesai tak kontak kamu lagi,'' ucap salah satu tim pengecek barang dari Jakarta itu kepada Bay. Bay lalu menjawab. ''Siap bos,'' ujarnya.
Apa yang dijalankan Bay untuk menjamu relasi bisnisnya itu, sebenarnya bukan hal baru di kota-kota yang sudah mengakar kehidupan metropolisnya. Hal seperti ini juga banyak dilakukan pihak tertentu untuk menyervis tamu, teman kerja dari luar kota, rekan kantor ataupun kunjungan dari pejabat atau bikrokat tertentu yang tidak berombongan.
Yang mengoperasikan mencari gadis-gadis persembahan, itu bisa lewat sopir-sopir kantoran, pengemudi taksi, pekerja tempat hiburan dan hotel, penjaga kampus ataupun indekos mewah atau melalui informan lain yang sudah dekat dengan si gadis. Itu bisa dari kalangan metroseksual, pekerja ataupun mahasiswa. (Agus Wahyudi-42s)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0611/23/ban06.htm

Menelusuri Bisnis Esek-esek di Purwokerto (1)

Tak Ada Tarif Khusus bagi Mahasiswa

Beberapa tahun terakhir ini perkembangan Kota Purwokerto sangat pesat. Proses modernisasi yang tak mengenal ruang dan waktu terus mengubah wajah kota dan kehidupan warganya. Seks dan pergaulan bebas, dua ikon dari potret gaya hidup yang tak terpisahkan, kini sudah tampil secara vulgar di kota ini. Kenapa bisa terjadi? Berikut hasil penelusuran wartawan Suara Merdeka Agus Wahyudi dalam beberapa tulisan mulai hari ini.
SEPEKAN setelah Ramadan atau seusai libur Lebaran lalu, saya dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa terjadi di Gang Sadar (GS) Baturraden. Saat itu kawasan penuh sesak dikunjungi para lelaki pencari sensasi seks.
Di kota ini, transaksi seks di bawah tangan seperti ini ternyata tak jauh berbeda dari yang ada di GS. Bedanya, hanya kemasan dan proses transaksi yang harus dilewati.
Seks terselubung, menurut pengakuan sejumlah pelaku atau wanita yang menjalani pekerjaan itu, yang membedakan hanyalah pada mereka menjalankan. Model ini antara lain dijalankan lewat hubungan komunikasi yang harus dibangun terlebih dahulu. Untuk berkencan, harus lewat janjian yang mengikat. Bisa lewat komunikasi telepon ataupun SMS yang terus berlanjut. Kemudian mengenal lebih jauh pribadi masing-masing ataupun mengenali jaringan yang dibangun hingga ada kecocokan fisik dan perasaan.
Mengenali jaringan mereka bisa lewat teman yang telah memiliki nomor ponselnya. Atau, melalui orang kepercayaan hingga bisa masuk ke dalam lingkaran pergaulan mereka. Yang sudah terbiasa berkomunikasi lewat ponsel, cukup menekan kode jaringan dengan menuliskan XX (dobel huruf), menulis sesuatu, seperti "waktu aman", "ada waktu,", dan "kesepian nih".
Beli Pulsa
Berdasarkan pengakuan beberapa mahasiswi dan pelajar yang masuk dalam lingkaran bisnis seks terselubung, yang paling dominan karena mereka butuh tambahan biaya untuk memenuhi gaya hidupnya. Jatah kiriman bulanan (luar kota) dan mingguan (orang lokal) dari orang tuanya tak sanggup lagi melunasi hasrat untuk mereguk segala kebutuhan.
"Kadang jatah untuk beli pulsa atau dolan-dolan kan tidak selamanya kami minta dari orang tua. Saya lebih gelisah kalau ponsel nggak ada pulsa daripada menahan lapar," ujar Leni (22), gadis mungil berparas setengah keturunan itu.
Dia bercerita, mengenal seks bebas saat kali pertama masuk diskotek di kota ini pada 2005. Setelah itu, dia terbiasa melepas kepenatan hidup di kafe atau tempat hiburan lain. Jika ada yang mengajak kencan dan cocok, bisa terus berlanjut.
"Kalau saya nggak mau pasang tarif. Kan tahu sendirilah kelas kami," ucapnya bersayap.
Dari kata-katanya itu, dia mengisyaratkan untuk kelas mahasisiwi, standar tarifnya Rp 300.000 ke atas. Di Purwokerto, tarif tertinggi saat ini Rp 750.00 sekali kencan.
Hitungan tarif kadang juga tergantung pada siapa yang mengajak. Jika dari kalangan pria dengan kantong tebal dan umurnya terlalu jauh, tarifnya tentu menyesuaikan status sosial yang disandangnya.
Leni menuturkan, temannya - sebut saja Desta (23)- pernah dibayar Rp 1 juta oleh seorang pengusaha muda. Tarif yang begitu besar karena dia bisa memberikan yang terbaik.
"Namun, kencannya seharian sejak pagi hingga sore. Dia punya pacar, selepas magrib biasanya diapeli. Karena itu, harus sampai ke indekos." (55j) 

http://www.suaramerdeka.com/harian/0611/22/ban06.htm

Melongok perajin batik tulis Banyumasan di Cilongok

CILONGOK boleh bangga tidak hanya karena dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis.
Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga Cilongok memiliki aset langka dalam urusan pelestarian seni batik khususnya di wilayah Banyumas bagian Barat ini. Melalui kekayaan daya ciptanya, Hj Karinah merupakan sosok yang memiliki pengabdian tanpa pamrih dalam bereasi di bidang seni batik tulis.
Meski paling banter sebulan Hj Karinah baru dapat menyelesaikan sepotong kain batik, namun karyanya memiliki keunggulan dari bermacam sisi. Karena membatik sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh dengan pengalaman. Baik pengalaman dari perhelatan antar zaman maupun pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal sejak jaman penjajahan Belanda.
“Saya mulai membatik sejak masih gadis cilik,” kata Hj Karinah kepada banyumasnews.com saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuanten Kecamatan Cilongok, Sabtu (26/9).
Dituturkan nenek dari 28 cucu dan 8 buyut ini, sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia, dirinya sudah belajar membatik. Pada tahun 1934 Karinah lulus Sekolah Rakyat (SR) tiga tahun kemudian melanjutkan ke Sekolah Kartini di Ajibarang dan lulus tahun 1936.
Ketika di sekolah Kartini itulah Karinah medapatkan bermacam pelajaran kerajinan tangan, seperti menjahit, menyulam, menenun hingga membatik. Para pengajarnya dari berbagai daerah seperti Cirebon, Jogjakarta, Cilacap sedangkan guru tenun berasal dari Bali.
Setamat sekolah Kartini, dia melanjutkan sekolah pertanian di Purworejo. Sebelum akhirnya dijemput oleh orangtuanya untuk menikah, Karinah sempat mengikuti kursus kebidanan.
Selama masa penjajahan Jepang, Hj Karinah tidak membuat batik, karena ketika itu memang kondisi bangsa pada umumnya sedang dalam kondisi melarat. Kemudian mulai membatik secara serius, ketika Hj Karinah menetap di Desa Batuanten pada tahun 1942.
Saat itu, dirinya tergugah setelah menyaksikan kondisi masyarakat setempat yang pengetahuannya serba terbatas. Demikian juga dalam hal berpakaian. Perempuan pergi ke pasar dengan tanpa busana, kecuali hanya mengenakan kemben itu hal biasa. Kemudian melalui kegiatan semacam perkumpulan wanita Hj Karinah mencoba menularkan ilmunya di bidang membatik kepada ibu-ibu di desa tersebut.
Namun, menurut Hj Karinah, banyak para ibu yang mengundurkan diri untuk belajar membatik. Alasannya terlalu telaten dan makan waktu lama. Maklum, masyarakat setempat terbiasa dengan pekerjaannya berupa mengolah gula kelapa yang dapat diolah dalam waktu cukup singkat, lalu bisa dijual dan dapat uang. Sedangkan membatik minimal sebulan baru dapat selembar kain jarit.
Menurut istri dari H Nurdin Kamal Mustafa, bermacam batik baik itu batik Solo, batik Jogya maupun batik Banyumas, secara garis besar sama. Adapun yang membedakan dari ketiganya adalah Sogan-nya. Misalnya Sogan Solo warnanya kuning kecoklatan, sedangkan Sogan Jogjakarta dominan warna coklat sementara Sogan Banyumasan berwarna putih. Adapun motif batik itu sendiri jenisnya lebih dari seratus.
Proses membatik sendiri memerlukan ketekunan, ketelatenan, kehati-hatian, cermat, imajinatif dan memiliki daya tahan yang tinggi. Bagaimana tidak? Sebelum dibatik, mori yang akan diajdikan emdia batik itu sendiri harus diproses sedemikian rupa agar ketika dilukis melemnya tidak kalis. Begitu selama membatik itu ada beberapa tahapan. Setiap tahapan membutuhkan waktu tersendiri yang cukup lama.
Dari mori yang sudah siap dibatik, terlebih dulu digarisi, baik garis miring atau garis lurus sesuai dengan corak yang dikehendaki. Tahapan awal dilanjutkan dengan Diwedel, lalu dibatik lagi kemudian Dibironi, dibatik lagi baru Disoga.
Bermacam corak batik hasil karya Hj Karinah seperti batik Kembang Asem, batik Parang Kesuma, batik Parang Lunglungan, batik Kawung, dan masih banyak lagi.
Selain sering mengikuti pameran baik di Desa, Kecamatan dan tempat lain, batik tulis asli karya Hj Karinah juga pernah dipesan oleh warga Australia. Selain pernah mendapatkan bantuan seperangkat alat membatik seperti canting dengan bermacam fungsi juga bahan baku seperti malam dan kain mori dari Disperindagkop Kabupaten Banyumas.
Sedangkan upaya pelestarian seni batik bagi para generasi penerus yang telah dilakukan seperti melalui kegiatan kursus mebatik bagi Ibu PKK Kecamatan Cilongok, PKK Desa Batuanten, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah formal sepertidi SMP Muhammadiyah Cilongok di bawah asuhan Ibu Endang Yuwana, di SMP Terbuka, serta melalui kelompok kegiatan ibu-ibu lainnya.
Dengan demikian, ketika batik Banyumas menjadi bagian dari eksistensi keberagaman batik Indonesia, maka kinerja dan pengabdian Hj Karinah di bidang pelestarian batik, perannya tidak bsia diabaikan begitu saja.. (banyumasnews.com/Hamidin Krazan)
Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)
Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)
Salah satu jenis batik yang tengah digarap (foto:ham/BNC)


http://banyumasnews.com

Knalpot Panser Malaysia dan Lebanon Dibuat di Purbalingga

PURBALINGGA– Setelah mendapat kepercayaan dari sejumlah industri mobil terkenal seperti Mercedes Benz, Suzuki, Daihatsu, dan Toyota, Industri Kecil Menengah (IKM) knalpot Purbalingga (Jateng) dipercaya memasok knalpot kendaraan tempur jenis Panser dan Tank. PT Pindad secara rutin meminta pasokan knalpot untuk Panser pesanan Malaysia dan Lebanon.
Selain itu, tank-tank buatan PT Pindad yang khusus untuk kebutuhan Alutsista TNI-AD juga knalpotnya dipasok dari Purbalingga.
Perajin knalpot Purbalingga, Muhajirin (53) mengemukakan, sejak tahun 2009/2010 PT Pindad (Persero) telah memesan knalpot untuk tank-tank milik TNI. Jumlah permintaan memang tidak banyak, rata-rata 150 buah knalpot per tahun atau tergantung pesanan pembuatan tank oleh TNI kepada PT Pindad.
“Pada tahun 2011 ini, kami juga diminta oleh PT Pindad untuk memasok knalpot kendaraan tempur Panser Anoa 6 x 6 yang dipesan Malaysia dan Lebanon. Kami telah mengirimkan 11 unit knalpot panser Anoa Lebanon, dan 32 unit knalpot pesanan Panser Malaysia. Knalpot itu lengkap termasuk bagian mufler (kendang knalpot) dan exhause (pipa pengeluaran) ,” kata Muhajirin, Jum’at (01/04/2011).
Panser Anoa 6 x 6 sejenis kendaraan tempur pengangkut personil atau APC (Armoured personal carrier) dengan sistem penggerak 6 roda simetris. Sebelumnya, Muhajirin secara rutin memasok mufler knalpot untuk jenis kendaraan panser mortir, panser recovery, panser Anoa-2, dan Panser tentara Malaysia. Semua pasokan atas permintaan PT Pindad. “Setidaknya kami telah mengirimkan 300 unit knalpot untuk kendaraan tank dan panser yang digarap PT Pindad. Dalam waktu dekat, kami juga tengah diminta memasok lagi knalpot untuk tank-tank model baru yang akan dibuat untuk memperkuat kendaraan TNI,” kata Muhajirin yang telah menekuni usaha knalpot sejak usia 30 tahun.
Dipilihnya knalpot Purbalingga, jelas Muhajirin, karena kualitas garapan yang baik dan mampu meredam suara. Muhajirin mengungkapkan, dirinya suatu ketika diundang ke PT Pindad di Bandung dan mengecek knalpot buatan pabrik. Setelah knalpot yang hendak dipasang di kendaraan tank, dibelah ternyata berbeda dengan knalpot garapan IKM di Purbalingga. Muhajirin ketika itu diminta mengirimkan membuatkan knalpot dan mengirimkan sampelnya.
“Ketika itu saya katakan, knalpot buatan Purbalingga, mampu meredam suara bising, tenaga lebih kuat dan mampu lebih menghemat bahan bakar. Pihak PT Pindad tidak percaya begitu saja. Namun, setelah melakukan ujicoba dengan mengganti knalpot Purbalingga dan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di Jabar, PT Pindad baru mulai percaya. Akhirnya, kami dipercaya memasok knalpot untuk tank TNI,” kata Muhajirin yang kini memiliki 18 orang karyawan.
Dijelaskan Muhajirin, knalpot kendaraan tank dan panser harus dibuat kuat dengan besi galvanis ukuran 1,6 mm. Berbeda dengan knalpot mobil biasa. Satu unit knalpot panser rata-rata berukuran 90 x 70 cm. Setiap lembar besi galvanis mampu untuk membuat tiga buah mufler knalpot. ”Harga satu unit knalpot lengkap sekitar Rp 5 juta, sedang bagian mufler berkisar antara Rp 700 ribuan,” kata Muhajirin
http://banyumasnews.com/

Sandal Limbah Tempurung Made In Purbalingga


PURBALINGGA – Alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Namun, perajin tempurung di Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga (Jateng) menciptakan model sandal dari tempurung. Sisa-sisa potongan tempurung yang digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, tidak dibuang namun di perhalus dan direkatkan satu persatu membentuk sandal. Unik bukan?
Meski berbahan dasar sebagian besar dari tempurung kelapa, namun bagian alas sandal tetap menggunakan bahan karet atau plastik, sesuai selera konsumen. Sementara bagian pengikat kaki, juga sama dengan sandal lainnya. Tempurung hanya digunakan pada pelapis alas sandal.
Harga sepasang sandal ini juga tidak begitu malah. Cukup Rp 25 ribu, untuk ukuran apa saja. Model sandal ini ternyata justru diminati konsumen dari luar kota seperti Jakarta, bandung dan Bali. Sementara di penjualan lokal, tidak begitu banyak dikenal. Boleh jadi, sandal tempurung buatan Purbalingga ini justru lebih banyak diketahui bukan berasal dari Purbalingga.
”Kebanyakan pesanan sandal tempurung untuk souvenir. Selain itu juga sejumlah pedagang dari luar kota seperti dari Bali, Jakarta dan Bandung, memesan sandal tempurung dari kami,” kata Unardi (40) perajin tempurung yang tinggal di RT 1/I Purbalingga Wetan.
Unardi mengungkapkan, ide membuat sandal tempurung sebenarnya datang begitu saja. Ketika mengetahui banyak potongan sisa tempurung yang telah dibuat berbagai macam kerajinan. Daripada potongan tempurung kecil-kecil tidak dipakai, lantas dimanfaatkan dengan cara dirangkai secara vertikal dan direkatkan dengan rem.
”Kami juga terus didorong oleh Disperindagkop untuk terus membuat produk-produk yang unik dan belum ada di masyarakat. Seperti sandal tempurung, juga meja tempurung, tempat tisue, kap lampu, asbak, tempat minuman dan sejumlah produk lainnya,” kata Unardi yang dibenarkan Sutrisno, ketua kelompok perajin tempurung ’Manunggal Karya’.
Kelompok Manunggal Karya kini memiliki anggota 42 orang. Setidaknya ada 34 macam hasil kerajinan yang diproduksi dan dijual ke pasaran di sejumlah kota besar. Hasil kerajinan ini sebagian besar untuk keperluan rumah tangga seperti irus, centhong, sendok kayu kelapa, piring kayu, ciri dan penghalus sambal, jam tempurung dan sebagainya. Bahan dasar yang digunakan selain limbah tempurung, juga potongan kayu kelapa (glugu), dan potongan kayu melinjo.
”Kami secara terus menerus mendapat dukungan promosi dari Pemkab Purbalingga melalui Disperindagkop, dan juga melalui Bank Jateng,” kata Sutrisno sembari menambahkan, pekan lalu juga diundang dalam ulang tahun Bank Jateng untuk memamerkan hasil produksinya.
Kepala Bidang Perindustrian pada Disperindagkop Purbalingga Drs Agus Purhadi Satyo mengatakan, Pemkab terus mendukung para perajin tempurung di kelurahan Purbalingga Wetan dengan melakukan fasilitasi berbagai hal. Pemkab telah mencoba mendukung pameran produk, bantuan bengkel kerja, dan studi banding ke perajin lainnya sebagai upaya menambah wacana (BNC/tgr)

http://banyumasnews.com

Batik Banjarnegara

Written By abah lc on Friday, February 10, 2012 | 7:08 AM



BANJARNEGARA – Untuk bisa bersaing dengan produk batik dari daerah lain yang sudah lebih dulu terkenal, seperti dari Solo, Jogja dan Pekalongan,  batik Banjarnegara  harus memiliki kekhasan dan keunggulan agar  diterima pasar. Demikian kata Joko Sasongko, Ketua Kadin Banjarnegara, mengomentari gealaran “Batik Great  Sale” yang diadakan di Banjarnegara,  5-8 Januari 2012, yang diikuti oleh 12 kelompok UMKM yang bergerak dalam kerajinan batik yang ada di Banjarnegara, yaitu 9 UMKM dari Gumelem, 2 dari Kutabanjernegara, dan 1 dari Mandiraja.
Kekhasan batik dicerminkan dari motif sedangkan keunggulan kualitas dari bahan dan pewarnaan. Karenanya Joko Sasongko berinisiatif mengirimkan batik Banjarnegara ke ITB Bandung untuk diteliti apakah batik Banjarnegara mudah luntur atau tidak. Dikatakannya, Rektor ITB yang asli putra Banjarnegara  sangat  mendukung produk lokal yang bisa membawa nama harum Banjarnegara  ini.
Pemerintah daerah melalui Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, mengapresiasi kegairahan masyarakat untuk memakai batik khas Banjarnegara. Seperti ditunjukkan dari pameran kali ini, beberapa organisasi profesi dan kalangan usaha memesan batik Banjarnegara  untuk seragam, seperti pesanan Ikatan Dokter  Indonesia (IDI) sejumlah 400 potong  kain. “Kami juga merencanakan pameran batik Banjarnegara  ini di Jakarta”, kata Hadi Supeno.
Dalam event Batik Great Sale dipamerkan juga batik dari daerah lain sebagai pembanding. (BNC/ist)
banyumasnews . com

Peningkatan SPAM Kebumen dan Purworejo Butuh Rp 463 Miliar

Written By abah lc on Thursday, February 9, 2012 | 9:53 PM

Peningkatan sistem penyediaan air minum (SPAM) di wilayah Kabupaten Kebumen dan Purworejo (Keburejo) memerlukan dana investasi yang tidak sedikit. Pemprov Jawa Tengah telah menghitung kebutuhan dananya sekitar Rp 463 miliar.
Hal itu terungkap dalam sosialisasi SPAM regional dan investasi pinjaman perbankan bersubsidi pemerintah pusat untuk kawasan Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas yang berlangsung di pendapa rumah dinas bupati Purworejo, hari ini.
Kepala Satua Kerja Peningkatan Kinerja Pengembangan Air Minum Jateng Ir Purwandi MSi dalam kesempatan itu menyebutkan, kebutuhan air minum terus meningkat, sedangkan air tanah kondisinya sudah mulai kritis. "Pengeboran air tanah sudah harus dihentikan," katanya.
Hasil kajian analisa diketahui, dalam satu tahun untuk wilayah Jateng telah dikeluarkan sekitar Rp 6,3 triliun untuk memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi yang tidak layak. Artinya pengeluaran sebesar itu terbuang sia-sia.
Oleh karena itu, sambungnya, program SPAM regional sangat efektif dan strategis untuk mencukupi kebutuhan air minum, di samping juga mengejar standar MDGs, di mana cakupan pelayanan air minum pada tahun 2015 sudah harus mencapai 75 persen. "Posisinya sekarang secara nasioal baru 38 persen," katanya.
Disebutkan Purwandi, dana sebesar Rp 463 miliar itu digunakan untuk membangun jaringan pipa untuk mengalirkan air dari waduk Wadaslintang. Dari dana itu, sekitar Rp 200 miliar ditanggung pemerintah pusat, Rp 150 miliar pemerintah provinsi. Sedangkan Pemkab Purworejo dan Kebumen masing-masing Rp 32 miliar untuk membangun pipa distribusi di wilayah masing-masing.
suaramerdeka.com

Cuaca Ekstrem Rawan Picu Inflasi


PURWOKERTO, KOMPAS.com - Kantor Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Jawa Tengah meminta pemerintah mewaspadai gejala cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini karena dapat memicu lonjakan inflasi. Selama ini, kelompok bahan makanan selalu menjadi pendorong inflasi di salah satu wilayah sentra pertanian tersebut.

"Cuaca ekstrem jelas dapat memicu kegagalan panen yang pada akhirnya menyebabkan lonjakan harga pangan. Ini sudah ditunjukkan inflasi Januari di Banyumas yang mencapai 0,9 persen jauh di atas bulan Desember sekitar 0,1 persen," ujar pemimpin BI Purwokerto, Dudi Herawadi, Jumat (3/2).

Dari survei yang dilakukan BI, inflasi di tahun 2012 di wilayah Purwokerto masih akan dipengaruhi komoditas pangan khususnya beras. Selain itu, Dudi juga mengingatkan faktor lain terutama rencana kenaikan BBM dan tarif dasar listrik.

"Apapun pilihannya, jelas bahwa kenaikan harga BBM atau pun pembatasan BBM akan meningkatkan inflasi. Apalagi, tingkat pendapatan masyarakat juga tidak naik secara signifikan," jelas Dudi.

BI Purwokerto menargetkan inflasi wilayah eks Karesidenan Banyumas pada 2012 sekitar 4,6 persen. Angka ini masih lebih rendah dari perkiraan inflasi nasional, yang mencapai di atas 5 persen.
Cuaca ekstrem jelas dapat memicu kegagalan panen yang pada akhirnya menyebabkan lonjakan harga pangan. Ini sudah ditunjukkan inflasi Januari di Banyumas yang mencapai 0,9 persen jauh di atas bulan Desember sekitar 0,1 persen

Manisnya Keramik Asmat ala Banyumas

Dalam dunia usaha persuveniran, sukses dan tidaknya, tergantung dari kejelian pelaku usaha itu sendiri. Inilah yang dilakoni Mad Ropingi, pengusaha asal Lumbir, Kabupaten Banyumas itu. Tak disangka, keramik berbentuk seni pahat Suku Asmat buatanya digandrungi penikmat seni dari dalam dan luar negeri. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Susanto dan Syakur Abdul Wahid.

”JEBULE gaweane wong Banyumas (Ternyata buatan orang Banyumas),” begitulah ungkapan orang Banyumas yang baru mengetahui bahwa oleh-oleh keramik yang dibelinya dari Bali adalah asli buatan perajin Banyumas.

Memang, dari bentuknya siapa sangka, berbagai macam suvenir keramik dan patung bernuansa Suku Asmat, Jawa dan Bali itu produk asli Banyumas. Apalagi, produk-produk tersebut sudah dijajakan di tempat wisata oleh para pedagang yang jauh dari wilayah Banyumas seperti di Bali.
Produk tersebut sudah tersebar sejak 2001.

”Hingga kini, sedikitnya 64 motif keramik yang kami buat. Kami mengusulkan kembali 10 motif lain untuk dipasarkan,” jelas Mad Ropingi (51) perintis keramik asal Lumbir.
Untuk melihat langsung proses pembuatan aneka produk keramik tersebut, setiap orang bisa datang ke Sanggar Asmat atau Pusat Keramik Cikadu Desa Lumbir, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas.

Lebih Suka Kecil

Di sanalah, kesibukan pekerja terlihat. Mereka ada  mengaduk tanah liat, membentuk bidang, memahat, menjemur, mengamplas, membakar dan mengecat berbagai produk kerajinan.
Tak jarang, sanggar keramik itu sepi atau tak ada aktivitas. Sebab, proses pengerjaan produk keramik tersebut telah dilakukan di rumah para pekerjanya. ”Terkadang ramai, karena mereka berkumpul di sanggar. Tetapi terkadang sepi karena pembuatan keramik dilakukan di rumah-rumah. Mereka bekerja menggunakan sistem borongan,” katanya.

Melalui kerja keras 12 orang pekerjanya dan sejumlah tenaga borongan dari warga sekitar, dia berupaya memenuhi pesanan puluhan ribu suvenir keramik ke sejumlah kota. Jenis suvenir itu adalah gantungan kunci, asbak, vas bunga, topeng, patung bernuansa Asmat, Jawa dan Bali.

”Kalau yang pekerja harian bekerja mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Adapun pekerja borongan tidak terbatas waktu. Yang penting, kuantitas dan kualitas produk keramik tetap terjaga,” jelasnya.

Produksi keramik berbentuk seni pahat Suku Asmat asli Banyumas itu biasanya dikirimkan kepada para pemesan secara bertahap. Pengiriman dilakukan sekitar 30 sampai 40 hari sekali. Untuk menjaga kuantitas dan kualitas produk, proses produksi hingga finishing sangat dijaga. Apalagi, keramik merupakan barang yang rentan pecah.
”Kami lebih suka memenuhi pesanan suvenir yang ukurannya kecil. Karena, usaha itu keuntungnya kelihatan dan risiko pecahnya juga kecil. Produk kami dipasarkan kepada pembeli mulai dari Rp 2.000 hingga puluhan ribu,” katanya.
Bagi dia, tingginya peminat terhadap produk keramik tersebut juga tak lepas dari nama Asmat. Nama itu merpakan salah satu nama suku di Papua yang sudah terkenal di seluruh jagad.

Itu pula alasan mengapa dia lebih memilih poduk keramik dengan motif dan model suku Asmat. ” Jika saya memproduksi patung atau keramik bawor, hanya sedikit turis mancanegara yang faham. Tetapi, jika keramik yang dibuat dengan motif dan model suku Asmat, pasti diminati. Sebab, namanya sudah terkenal,” jelasnya.

Pameran

Pusat suvenir dan berbagai bentuk produk kreatif di Jogger Bali merupakan salah pelanggannya hingga kini. Tak hanya itu, setiap kali ada ajang pameran tingkat regional (Jateng Fair) dan nasional (Pekan Raya Jakarta - PRJ), keramik Banyumas dipastikan laris terjual.
”Ada konsumen yang sudah mengenal produk keramik saya di Jogger Bali, sehingga ia tertarik untuk membeli langsung ke kami selaku produsen,” ujar Ropingi.
Sebelumnya, selama pameran di Jakarta, sedikitnya lebih dari 2.500 keramik hias terjual, dengan omzet sekitar Rp 35 juta per minggu.

Luasnya jangkauan pemasaran produk keramik Banyumas tak lepas dari peran pemerintah. Produk tersebut berhasil dikenalkan melalui pameran, mulai dari tingkat kecamatan dan terus naik hingga nasional.
Kepala Dinperindagkop Banyumas Suyudhi mengatakan, pemerintah memfasilitasi pelaku usaha potensial, dengan menyertakan di berbagai ajang pameran dan promosi produk.

Sejumlah UMKM yang diikutsertakan dalam pameran tersebut juga dibiayai pemerintah. Dengan begitu, meraka bisa fokus dalam meningkatkan produksi baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Sejumlah produk UMKM unggulan tersebut, selama ini, juga menjadi binaan Pemkab. Pembinaan yang dia lakukan berkaitan dengan peningkatan kulitas, akses pasar hingga permodalan.
(Suara Merdeka )

Entertainment

Lifestyle

 
Support : Copyright © 2011. purwokerto dan sekitarnya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger