Headlines News :
Home » , , » Menelusuri Bisnis Esek-esek di Purwokerto (1)

Menelusuri Bisnis Esek-esek di Purwokerto (1)

Written By abah lc on Saturday, February 11, 2012 | 5:37 PM

Tak Ada Tarif Khusus bagi Mahasiswa

Beberapa tahun terakhir ini perkembangan Kota Purwokerto sangat pesat. Proses modernisasi yang tak mengenal ruang dan waktu terus mengubah wajah kota dan kehidupan warganya. Seks dan pergaulan bebas, dua ikon dari potret gaya hidup yang tak terpisahkan, kini sudah tampil secara vulgar di kota ini. Kenapa bisa terjadi? Berikut hasil penelusuran wartawan Suara Merdeka Agus Wahyudi dalam beberapa tulisan mulai hari ini.
SEPEKAN setelah Ramadan atau seusai libur Lebaran lalu, saya dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa terjadi di Gang Sadar (GS) Baturraden. Saat itu kawasan penuh sesak dikunjungi para lelaki pencari sensasi seks.
Di kota ini, transaksi seks di bawah tangan seperti ini ternyata tak jauh berbeda dari yang ada di GS. Bedanya, hanya kemasan dan proses transaksi yang harus dilewati.
Seks terselubung, menurut pengakuan sejumlah pelaku atau wanita yang menjalani pekerjaan itu, yang membedakan hanyalah pada mereka menjalankan. Model ini antara lain dijalankan lewat hubungan komunikasi yang harus dibangun terlebih dahulu. Untuk berkencan, harus lewat janjian yang mengikat. Bisa lewat komunikasi telepon ataupun SMS yang terus berlanjut. Kemudian mengenal lebih jauh pribadi masing-masing ataupun mengenali jaringan yang dibangun hingga ada kecocokan fisik dan perasaan.
Mengenali jaringan mereka bisa lewat teman yang telah memiliki nomor ponselnya. Atau, melalui orang kepercayaan hingga bisa masuk ke dalam lingkaran pergaulan mereka. Yang sudah terbiasa berkomunikasi lewat ponsel, cukup menekan kode jaringan dengan menuliskan XX (dobel huruf), menulis sesuatu, seperti "waktu aman", "ada waktu,", dan "kesepian nih".
Beli Pulsa
Berdasarkan pengakuan beberapa mahasiswi dan pelajar yang masuk dalam lingkaran bisnis seks terselubung, yang paling dominan karena mereka butuh tambahan biaya untuk memenuhi gaya hidupnya. Jatah kiriman bulanan (luar kota) dan mingguan (orang lokal) dari orang tuanya tak sanggup lagi melunasi hasrat untuk mereguk segala kebutuhan.
"Kadang jatah untuk beli pulsa atau dolan-dolan kan tidak selamanya kami minta dari orang tua. Saya lebih gelisah kalau ponsel nggak ada pulsa daripada menahan lapar," ujar Leni (22), gadis mungil berparas setengah keturunan itu.
Dia bercerita, mengenal seks bebas saat kali pertama masuk diskotek di kota ini pada 2005. Setelah itu, dia terbiasa melepas kepenatan hidup di kafe atau tempat hiburan lain. Jika ada yang mengajak kencan dan cocok, bisa terus berlanjut.
"Kalau saya nggak mau pasang tarif. Kan tahu sendirilah kelas kami," ucapnya bersayap.
Dari kata-katanya itu, dia mengisyaratkan untuk kelas mahasisiwi, standar tarifnya Rp 300.000 ke atas. Di Purwokerto, tarif tertinggi saat ini Rp 750.00 sekali kencan.
Hitungan tarif kadang juga tergantung pada siapa yang mengajak. Jika dari kalangan pria dengan kantong tebal dan umurnya terlalu jauh, tarifnya tentu menyesuaikan status sosial yang disandangnya.
Leni menuturkan, temannya - sebut saja Desta (23)- pernah dibayar Rp 1 juta oleh seorang pengusaha muda. Tarif yang begitu besar karena dia bisa memberikan yang terbaik.
"Namun, kencannya seharian sejak pagi hingga sore. Dia punya pacar, selepas magrib biasanya diapeli. Karena itu, harus sampai ke indekos." (55j) 

http://www.suaramerdeka.com/harian/0611/22/ban06.htm
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2011. purwokerto dan sekitarnya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger