Headlines News :
Showing posts with label Purbalingga. Show all posts
Showing posts with label Purbalingga. Show all posts

asal usul purbalingga

Written By abah lc on Friday, March 2, 2012 | 11:29 AM

Sebuah nama yang pasti tidak akan tertinggal ketika membicarakan sejarah Purbalingga adalah Kyai Arsantaka, seorang tokoh yang menurut sejarah menurunkan tokoh-tokoh Bupati Purbalingga.Kyai Arsantaka yang pada masa mudanya bernama Kyai Arsakusuma adalah putra dari Bupati Onje II. Sesudah dewasa diceritakan bahwa kyai Arsakusuma meninggalkan Kadipaten Onje untuk berkelana ke arah timur dan sesampainya di desa Masaran (Sekarang di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara) diambil anak angkat oleh Kyai Wanakusuma yang masih anak keturunan Kyai Ageng Giring dari Mataram.
Pada tahun 1740 – 1760, Kyai Arsantaka menjadi demang di Kademangan Pagendolan (sekarang termasuk wilayah desa Masaran), suatu wilayah yang masih berada dibawah pemerintahan Karanglewas (sekarang termasuk kecamatan Kutasari, Purbalingga) yang dipimpin oleh Tumenggung Dipayuda I. Banyak riwayat yang menceritakan tenang heroisme dari Kyai Arsantaka antara lain ketika terjadi perang Jenar, yang merupakan bagian dari perang Mangkubumen, yakni sebuah peperangan antara Pangeran Mangkubumi dengan kakaknya Paku Buwono II dikarenakan Pangeran mangkubumi tidak puas terhadap sikap kakanya yang lemah terhadap kompeni Belanda.
Dalam perang jenar ini, Kyai Arsantaka berada didalam pasukan kadipaten Banyumas yang membela Paku Buwono. Dikarenakan jasa dari Kyai Arsantaka kepada Kadipaten Banyumas pada perang Jenar, maka Adipati banyumas R. Tumenggung Yudanegara mengangkat putra Kyai Arsantaka yang bernama Kyai Arsayuda menjadi menantu. Seiring dengan berjalannya waktu, maka putra Kyai Arsantaka yakni Kyai Arsayuda menjadi Tumenggung Karangwelas dan bergelar Raden Tumenggung Dipayuda III.
Masa masa pemerintahan Kyai Arsayuda dan atas saran dari ayahnya yakni Kyai Arsantaka yang bertindak sebagai penasihat, maka pusat pemerintahan dipiindah dari Karanglewas ke desa Purbalingga yang diikuti dengan pembangunan pendapa Kabupaten dan alun-alun. Nama Purbalingga ini bisa kita dapati didalam kisah-kisah babad. Adapun Kitab babad yang berkaitan dan menyebut Purbalingga diantaranya adalah Babad Onje, Babad Purbalingga, Babad Banyumas dan Babad Jambukarang. Selain dengan empat buah kitap babat tsb, maka dalam merekonstruksi sejarah Purbalingga, juga melihat arsip-arsip peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang tersimpan dalam koleksi Aarsip Nasional Republik Indonesia.Berdasarkan sumber-sumber diatas, maka melalui Peraturan daerah (perda) No. 15 Tahun 1996 tanggal 19 Nopember 1996, ditetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Purbalingga adalah 18 Desember 1830 atau 3 Rajab 1246 Hijriah atau 3 Rajab 1758 Je.

Peninggalan Sejarah

Selain kekayaan budaya dan beberapa macam upacara tradisional, di Purbalingga terdapat berbagai peninggalan sejarah purbakala. Benda- benda purbakala tersebut tersebar di wilayah Purbalingga, antara lain :
  • Batu Lingga
    Berada di desa Candinata Kecamatan Kutasari + 8 km dari kota Purbalingga, merupakan penginggalan nenek moyang.
  • Gua Genteng
    Berada di desa Candinata Kecamatan Kutasari + 8 km dari kota Purbalingga. Gua ini letaknya di lereng bukit terbentuk dari lelehan lava yang membeku, gua ini kadang-kadang dikunjungi oleh orang-orang yang ingin bersemedi.
  • Giri Cendana
    Berada di desa Kojongan kecamatan Bojongsari + 5 km dari kota Purbalingga. Merupakan makam Bupati Purbalingga yang bergelar Adipati Dipokusumo, Adipati Dipokusumo ini memegang tapuk pimpinan pemerintahan Kabupaten Purbalingga, yaitu Dipokusumo II,III, IV, V dan VI, sedangkan adipati yang pertama adalah Raden Tumenggung Dipayuda III, yang mulai memerintah pada saat ditetapkannya KabupatenPurbalingga pada tanggal 18 Desember 18830.
  • Gombangan
    Berada di Dukuh Brubahan Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari + 5 km ke utara dari arah kota purbalingga. Merupakan tempat mandi yang berupa sumber mata air dan ramai dikunjungi pada malam hari, terutama pada malam jum?at kliwon. Menurut kepercayaan masyarakat, mata air tersebut dapat memberikan tuah bagi yang mandi ditempat ini dan konon awet muda, dapat mendapatkan jodoh dan naik derajat.
  • Sendang / Petirtaan
    Berada di desa Semingkir, Kecamatan Kutasari + 7 km dari kota Purbalingga. Sendang ini konon dapat memberikan tuah bagi yang mempercayainya. Di kunjungi pada malam malam tertentu.6. MAKAM KYAI WILAH Berada di desa Karangsari kecamatan Kalimanah + 5 km dari kota Purbalingga. Merupakan tokoh beragama islam yang cukup berpengaruh. Tempat ini sering dikunjungi orang-orang yang ingin mendoakan dan mengharap berkah dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
  • Batu Lingga, Yoni dan Palus
    Berada di Desa Kedungbenda Kecamatan Kemangkon + 14 km dari kota Purbalingga. Merupakan peninggalan pada masa hindu.
  • Makam Narasoma
    Berada di kelurahan Purbalingga Lor kecamatan Purbalingga9. ARDI LAWET Berada di Desa Panusupan Kecamatan Rembang + 30 km dari kota Purbalingga. Merupakan obyek wisata ziarah, karena sebagian besar pengunjungnya adalah para peziarah yang menginginkan berkah dari syekh Jambu Karang, seorang tokoh penyebar agama Islam di daerah Kab. Purbalingga. Di tempat ini terdapat kuku dan rambut Syekh Jambu Karang yang dikeramatkan. Hari-hari ramai adalah Rabu Pon, karena menjelang malam Jum?at kliwon atau Kamis Wage diadakan upacara buku klambu dan yang paling ramai dikunjungi adalah Rabu Pon Bulan Suro. Untuk mencapai lokasi ke Ardi Lawet dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu : Purbalingga – Bobotsari – Karanganyar – Karangmoncol – Rajawana – Panusupan – Ardi Lawet, atau Purbalingga – Kaligondang – Pengadegan – Rembang – Rajawana – Panusupan – Ardilawet

Sumber: http://pur balinggakab .go.id

Kwarcab Banyumas Minta Polres Purbalingga Usut Tuntas Perusakan Mobil

Written By abah lc on Wednesday, February 22, 2012 | 10:37 PM



PURWOKERTO - Ketua Kwarcab Banyumas, Didi Rudwianto meminta Polres Purbalingga segera mengusut tuntas perusakan mobil Pemkab Banyumas yang ditumpangi anggota Pramuka.
Ia mengatakan kejadian pelemparan batu oleh suporter Persibangga Purbalingga merupakan kejadian yang tak terduga.

"Harapan ke depan tidak terjadi di masa yang akan datang dan semoga kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi pengurus Persibangga," kata Ka Kwarcab Banyumas Didi Rudwianto melalui Kasi Bina Muda, Handoko, Kamis (23/2/2012) siang.

Sebelumnya, bus milik Pemkab Banyumas Rabu (22/12/2012) petang dilempari suporter bola di jalan raya Jompo, Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Bus mengalami kerusakan parah di bagian kaca depan, samping kanan dan belakang. Seorang pembina pendamping mengalami luka bocor di bagian kepala dan anak-anak trauma ketakutan. Pelemparan tersebut diduga salah sasaran (*)
TRIBUNJATENG . COM, 
 Laporan Reporter Tribun Jogja, Hanan Wiyoko
Editor : budi_pras

Usai Persibangga vs Persibas, Rombongan Pramuka Diserang Suporter




PURBALINGGA – Bus milik Pemkab Banyumas yang membawa rombongan Pramuka diserang puluhan orang berkaus merah yang diduga suporter sepak bola, kemarin sore. Akibat kejadian itu, satu orang menderita luka parah dan tujuh luka ringan.
Kaca bus pecah di bagian depan, samping kanan, dan belakang. Korban luka parah yakni Agus Candra, pembina Pramuka Banyumas. Kepalanya terkena pecahan kaca. Dia dilarikan ke RS Margono Soekarjo Purwokerto. Adapun korban yang luka ringan diperbolehkan pulang setelah dirawat di lokasi.
Pelemparan itu terjadi di perbatasan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purbalingga, sesaat menjelang kepulangan suporter dan pemain Persibas Banyumas setelah bertanding melawan tuan rumah Persibangga Purbalingga di Stadion Goentoer Darjono.
Salah seorang pembina Pramuka Banyumas, Pujatman Agung Nugroho, menuturkan, rombongannya dalam perjalanan pulang dari Semarang. Bus membawa 16 anggota Pramuka dan tiga pembina yang baru mengikuti lomba tingkat SMP se-Jateng.
Sampai di depan SPBU Kalimanah, Purbalingga, bus dipepet puluhan pengendara sepeda motor berseragam merah.
Karena takut, pengemudi menghentikan bus di depan Akper Yakpermas, sekitar dua kilometer dari SPBU. Tempat itu masuk wilayah Kabupaten Banyumas. Begitu berhenti, bus dilempari batu oleh pengendara motor. Penumpang yang ketakutan berhamburan keluar, lalu masuk gedung Akper.
Kabag Ops Kompol Jemino Polres Purbalingga menjelaskan, pelaku pelemparan diduga salah sasaran. Bus Pramuka disangka mengangkut pemain Persibas, karena bertulis Pemkab Banyumas.

Bus Rombongan Pramuka BMS Diserang Suporter Bola Purbalingga



Puluhan suporter Persibangga Purbalingga melakukan perusakan terhadap bus milik pemkab banyumas yang berisi anggota pramuka penggalang kwarcab Banyumas yang sedang melintas di jalan raya jompo sokaraja. Akibatnya seorang anggota pramuka mengalami mengalami luka serius di bagian kepala dan terpaksa dilarikan ke rs margono soekardjo. Dan puluhan lainnya luka ringan. Sementara bus mengalami kerusakan parah pecah kaca depan, samping kanan dan belakang. Setelah melakukan perusakan para pelaku yang baru saja menyaksikan pertandingan antara Persibangga Purbalingga kontra Persibas Banyumas langsung melarikan diri kembali masuk kota purbalingga. Ketua rombongan Agung, mengisahkan kronologi kejadian, saat bus melintas di perbatasan banyumas purbalingga tiba-tiba dihentikan oleh puluhan suporter yang menggunakan sepeda motor. Mereka menggedor-gedor bus dan memaksa bus berhenti. Tak berhenti sampai di situ masa melempari bus dengan batu. "Kami semua yang ada dalam bus panik, terutama anggota putri semuanya
terutama anggota putri semuanya berteriak dan menangis. Mungkin para pelaku mengira kami rombongan pemain yang baru saja bertanding," kata Agung. Korban dan semua penumpang bus dievakuasi ke kampus AKPER YAPERMAS yang tak jauh dari lokasi kejadian. Sampai berita ini diturunkan polisi dari polres purbalingga masih berjaga jaga di TKP. (gps)
 
-------------------------------------------------------------------------------
Kutipan detik.com :=> Banyumas Bus milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Jawa Tengah yang ditumpangi 20 anggota Pramuka Kwarcab Banyumas dirusak oleh puluhan suporter bola. Akibat kejadian tersebut salah seorang penumpang pramuka harus dilarikan ke rumah sakit.

Kejadian ini terjadi saat bus melewati perbatasan Banyumas-Purbalingga, pada Rabu (22/2/2012) sekitar pukul 17.00 WIB. Beberapa penumpang juga mengalami luka ringan.

Puluhan pemuda yang melakukan perusakan tersebut diduga dari suporter Persibangga Purbalingga. Bus plat merah bertuliskan 'Pemkab Banyumas' itu dirusak saat melintas di jalan Raya Jompo, Sokaraja-Banyumas, Jawa Tengah atau tak jauh dari tugu perbatasan dan pos Satlantas Purbalingga, oleh puluhan pemuda bersepeda motor 

Sekitar 15 menit, puluhan pemuda tersebut melempari bus dengan batu, bambu dan rantai gir sepeda motor. Kaca depan, samping kanan dan belakang bus warna putih rusak parah. Batu seukuran kepalan tangan dewasa ditemukan di dalam bus.

Perusakan bus ini dilatarbelakangi pertandingan sepak bola antar kabupaten yang bertetangga. Rabu sore di Stadion Goentur Darjono, Purbalingga. Pertandingan antara Persibangga Purbalingga dengan Persibas Banyumas tersebut dimenangkan oleh Persibangga Purbalingga dengan skor 1-0.

Seorang saksi mata, Arhanu Nugroho Eka Saputra (19) melihat bus dari arah timur sudah dibuntuti puluhan suporter. Begitu bus melintas tugu perbatasan, saksi melihat pengendara motor yang berboncengan mengedor-gedor bus dan mulai melempari batu. Begitu bus berhenti, ia masih melihat para pemuda merusak bus.

"Usai merusak mereka kabur berbalik arah. Ada beberapa juga yang ditangkap polisi," kata Nugroho yang saat kejadian sedang duduk di depan warnet tak jauh dari lokasi kejadian.

Saksi korban, Hariana Adhy Candra (27), menderita luka bocor di bagian kepala karena lemparan batu dari arah depan. Andalan Seksi Protokoler Kwarcab Banyumas ini sempat memberi aba-aba ke penyerang bahwa mereka rombongan pramuka namun tetap diserang.

"Mereka melempari dari arah depan, kanan dan belakang. Anak-anak saya minta tiarap. Hampir 15 menit kami dilempari," kata Heriana yang duduk di kursi depan samping kiri.

Ia mengisahkan saat bus dilempari suasana di dalam bus sangat mencekam. Banyak anak-anak perempuan yang menangis dan sebagian lagi memekikan 'Allohu Akbar'.

"Kita tak tahu kenapa diserang. Semua tiarap hingga seorang warga masuk ke bus dan memberitahukan sudah aman," kata Heriana warga Rawalo, Banyumas.

Kasi Bina Muda Kwarcab Banyumas, Handoko mengatakan rombongan tersebut merupakan kontingen Lomba Tingkat (IV) Jawa Tengah yang dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Banyumas. Bus tersebut berisi 16 pelajar SMPN 1 Patikraja dan SMPN 1 Sumbang, satu sopir dan tiga pembina pendamping.

"Anak-anak mengalami shock, mereka ketakutan dan segera dievakuasi menggunakan truk dalmas ke sanggar pramuka untuk dijemput keluarga," kata Handoko yang menambahkan regu putra berhasil menyabet juara umum di perkemahan yang digelar Sabtu-Rabu (18-22/2/2012). 

Selain mengakibatkan korban luka dan ketakukan, perusakan juga mengakibatkan kaca-kaca bus mengalami kerusakan parah di bagian kaca depan, samping kanan dan belakang. Sampai berita ini diturunkan polisi dari Polres Banyumas masih berjaga jaga di TKP yang merupakan daerah perbatasan kedua kabupaten.
(arb/van)

-------------------------------------------------------------------------------

Lima Masalah Ancam Pelaksanaan E-KTP Purbalingga

Written By abah lc on Friday, February 17, 2012 | 12:12 PM

PURBALINGGA,  - Komisi A DPRD Purbalingga mencatat, setidaknya terdapat lima poin utama yang bisa mengganjal rencana pelaksanaan program nasional KTP elektronik di Purbalingga pada Juni mendatang. Permasalahan yang dimaksud para wakil rakyat, tak hanya pada tataran persiapan. Namun, juga pada proses pelaksanaan program dengan gelontoran dana APBD 2012 senilai Rp 500 juta.
Dari aspek persiapan, disebutkan akurasi data kependudukan yang masih bermasalah akan membuat perekaman data membutuhkan kerja ekstra keras. "Apalagi, data yang salah itu banyak," ucap anggota Komisi A, Sumoyo.
Ditambahkan, fasilitas pelaksanaan program yang belum sepenuhnya oleh pemerintah kecamatan. Di antaranya, seperangkat alat komputer, pemindai sidik jari, scaner, printer, tripod dan juga kamera. "Sudah mendekati akhir Februari, tapi masih ada yang belum menerima fasilitas itu. Waktunya sudah mepet. Apalagi, katanya pertengahan Maret mau perekaman data," tuturnya, Rabu (15/2).
Di luar pemberian fasilitas dari Dindukcapil, hingga kini, pemerintah kecamatan juga masih sibuk menyiapkan fasilitas infrastruktur. Mulai dari penyediaan ruang sampai dengan penambahan daya listrik. "Malah itu ada fasilitas tower SIAK yang rusak. Padahal seharusnya sudah tidak bermasalah dengan itu," tambah anggota Komisi A lainnya, Nurul Hidayah di gedung dewan.
Dia berujar, Komisi A juga menyoroti masalah banyaknya jumlah penduduk di beberapa kecamatan. Khususnya, wilayah yang memiliki jumlah penduduk wajib KTP di atas 50 ribu. Di Kabupatan Purbalingga, dari 18 kecamatan yang ada, terdapat empat kecamatan yang jumlah penduduknya tergolong tinggi yakni Bukateja, Mrebet, Kaligondang dan Rembang.
Dalam sehari, alat bisa memproduksi sekitar 300 E-KTP. Sedangkan di satu kecamatan hanya ada empat petugas yang bekerja. "Ini harus diperhitungkan tenaga dan waktu pengerjaannya," ucap Nurul.
Sumoyo kembali mengemukakan, masalah warga Purbalingga yang ada di luar daerah dan juga sudah berusia lanjut, patut mendapatkan perhatian serius. Jika pengaturan waktu tak tepat, bisa menghambat pekerjaan yang ada.
"Warga normal paling membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit untuk membuat KTP. Kalau orang yang sudah lanjut usia kan sudah pasti membutuhkan waktu lebih dari itu. Mungkin sekitar 7 menit," tuturnya. suaramerdeka.com

Komite Sekolah Sepakat Hapus Pungutan

PURBALINGGA- Jajaran Komite Sekolah tingkat SLTP se-Kabupaten Purbalingga yang mengikuti rapat sosialisasi Permendikbud Nomor 60 tahun 2011, sepakat akan menghilangkan pungutan di SLTP negeri mulai tahun ajaran baru 2012/2013 (Juni). Komite bersama Dewan Pendidikan juga akan melaporkan jika masih ada pelanggaran pungutan dalam tahun ajaran baru nanti.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Soedino SE mengatakan, selain lesepakatan menghapus pungutan, sekolah juga diminta melakukan perubahan APBS (Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah) segera. Karena, ada penambahan pemasukan dari kenaikan dana BOS sebesar 40 persen.

Lebih lanjut dikatakan, saat ini sudah ada sekolah yang sudah komitmen menjalankan kontrak proyek selama 3 tahun anggaran yang memungkinkan adanya pungutan pada siswa. Padahal, Permendagri itu melarang adanya pungutan.

“Saya menyarankan, silakan diputus saja kontrak pembangunan itu sembari meminta ijin kepada Bupati. Jika kepala daerah menyetujui tetap jalan, silakan saja,” terangnya.

Jika pungutan tetap dilakukan, Dewan Pendidikan tetap melaporkan tindakan pungutan yang dilakukan sekolah dengan cara apapun. Meski disetujui bupati, tetap akan dilaporkan dengan rinci. Pihaknya akan melaporkan kepada Menteri terkait.

Seperti diketahui, Permendikbud Nomor 60 Tahun 2011 tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan pada Ssekolah Dasar dan SMP seharusnya sudah berlaku sejak Januari 2012. Disisi lain, kabupaten Purbalingga baru saja menerbitkan Perda Pembiayaan Pendidikan. Tumpang tindih aturan itu yang menyebabkan ketidakpastian bagi sekolah dalam menyambut tahun ajaran baru mendatang.

Sementara itu terkait diterapkannya permendikbud 60, Komite sekolah SLTP juga khawatir. Pasalnya selama ini guru tidak tetap (GTT) maupun pegawai tidak tetap (PTT) dibayar dari bantuan APBD sebesar Rp 2.000 per jam. Jika komite tak melakukan pungutan kepada masyarakat, honor mereka akan tetap kecil.

“Kami komite yang menandatangani kesepakatan pembayaran itu. Jika tetap tak ada tambahan honor, BTT/PTT akan mengejar Komite. Lalu sekolah bisa saja lepas tangan. Komite menginginkan adanya kenaikan honor GTT/PTT, setidaknya sebulan bisa mencapai atau mendekati UMK,” kata Soedino mewakili para Komite SLTP. (amr/bdg) jpnn .com

Ekspor Kamaboko-ita dan Gomaki ke Jepang Tetap Lancar

Written By abah lc on Monday, February 13, 2012 | 3:44 AM


Purbalingga, Humas – Meski wilayah Jepang tengah dilanda bencana gempa bumi disertai tsunami dan bahaya radiasi nuklir Fukushima, namun ekspor produksi Kamaboko-ita (tatakan makanan ikan yang diolah) dan Gomaki (alat sembahyang) untuk orang Jepang, tetap jalan terus. Kamaboko-ita dan Gomaki diproduksi oleh PT N.Y.P. Woodwork — perusahaan PMA yang sahamnya dimiliki Yamagashi Woodworking Ltd. (Jepang) dan beroperasi di Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga (Jateng).
Kenzaburo Sugimoto, pemilik dan Presiden Direktur (Presdir) N.Y.P. Woodwork, menjelaskan, permintaan ekspor ke Jepang masih tetap dan tidak terpengaruh bencana tsunami di Jepang. Dalam satu bulan, setidaknya mengirimkan enam kontainer Kamaboko-ita dan Gomaki dengan nilai ekspor selama setahun antara 800 juta Yen hingga 1 milyar Yen.
”Ekspor produk kami tidak terpengaruh. Kami masih lancar mengirimkan Kamaboko-ita dan Gomaki ke Taiwan dan Jepang,” ujar Kenzaburi Sugimoto, Senin (21/03/2011).
Disebutkan Kenzaburo, selain produk utama Kamaboko-ita dan Gomaki, pihaknya juga memproduksi segala kemasan kayu yang sangat halus olahannya, seperti kotak sake, kotak cokelat dan kotak perhiasan. ”Produk olahan tersebut semuanya untuk memenuhi sebagian besar pasar Jepang, dan sebagian kecil ke Taiwan. Produk kami kendalanya hanya pada ketersediaan bahan baku berupa kayu pinus yang sangat terbatas,” kata Kenzaburo. (Humas/y)
http://www .purbalinggakab.go.id/teknologi-industri/ekspor-kamaboko-ita-dan-gomaki-ke-jepang-tetap-lancar

Industri Rambut Palsu Terbesar No. 2 Di Dunia

Kabupaten Purbalingga mulai tahun 2008 adalah untuk membangun dirinya sebagai pusat manufaktur rambut dan bulu mata palsu kedua di dunia, setelah Gwangju, Korea Selatan. Purbalingga kini memiliki 18 industri manufaktur dan rambut bulu palsu, semua datang dari modal asing, dan telah menyerap 30.000 pekerja.

Kepercayaan itu, menurut Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko, muncul pekan lalu ketika dia diundang oleh para pengusaha Korea Selatan mengunjungi sejumlah wig-membuat industri di Korea Selatan. "Dari hasil kunjungan itu, saya percaya industri wig Purbalingga adalah industri ramput palsu nomor satu di Indonesia, serta kedua di dunia setelah Gwangju," katanya, Sabtu (12 / 7). Kabupaten Purbalingga keberhasilan pemerintah menarik investor asing dari industri wig, katanya, bisa menjadi citra tersendiri bagi Purbalingga yang hanya dikenal sebagai satu kota kecil di Jawa Tengah. "Foto atau citra sebagai kota rambut palsu, setidaknya akan menjadi ikon tersendiri bagi kota kecil seperti Purbalingga ini," lanjutnya.

Dalam hal pendapatan, Bupati Purbalingga mengakui, keberadaan 18 investor asing hampir tidak ada kontribusinya terhadap Purbalingga, selain hanya pajak bumi bangunan. Sisanya dari pajak ekspor untuk setiap produk diekspor ke negara-negara lain, banyak dinikmati oleh pemerintah pusat.

Namun, PMA adalah 18, katanya, bisa memberikan jalan keluar dari kekacauan yang dialami pengangguran selama ini Purbalingga. Oleh karena itu, kami tetap mendukung investasi asing yang dapat memberikan lapangan kerja dalam jumlah besar. "Misalnya, seperti sekarang, telah menyerap 30.000 orang dalam pembuatan wig industri," katanya.

Kepala Humas Pemkab Purbalingga Djoko Triwinarso mengatakan, selain 18 asal luar negeri Korea Selatan bergerak di bidang usaha pembuatan wig, Purbalingga juga memiliki satu lagi PMA dari Jepang bergerak dalam usaha pembuatan alat-alat kayu.

Dari 19 PMA, lanjutnya, telah meningkatkan nilai investasi asing selama tahun pada tahun 2007 kemarin Purbalingga, yang naik menjadi Rp 39 miliar, atau naik sekitar 37 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2002-2007 saja, Kabupaten Purbalingga disetujui tujuh proyek PMA dengan nilai 6830000000 dolar AS, dan sekarang dapat menyediakan lapangan kerja untuk 3726 orang. dn-Buruh_Rambut

Bersamaan, Purbalingga telah melakukan tujuh proyek lain FDI senilai US $ 7725000000 dan telah menyediakan lapangan kerja bagi 3.433 orang. "Sebagian besar semua proyek asing, rata-rata orang dapat menyerap 575 pekerja. Jumlah itu jauh di atas rata-rata kerja di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta, "jelasnya.
http://www.purbalinggakab.go.id/teknologi-industri/industri-rambut-palsu-terbesar-no-2-di-dunia

Knalpot Panser Malaysia dan Lebanon Dibuat di Purbalingga

Written By abah lc on Saturday, February 11, 2012 | 5:25 PM

PURBALINGGA– Setelah mendapat kepercayaan dari sejumlah industri mobil terkenal seperti Mercedes Benz, Suzuki, Daihatsu, dan Toyota, Industri Kecil Menengah (IKM) knalpot Purbalingga (Jateng) dipercaya memasok knalpot kendaraan tempur jenis Panser dan Tank. PT Pindad secara rutin meminta pasokan knalpot untuk Panser pesanan Malaysia dan Lebanon.
Selain itu, tank-tank buatan PT Pindad yang khusus untuk kebutuhan Alutsista TNI-AD juga knalpotnya dipasok dari Purbalingga.
Perajin knalpot Purbalingga, Muhajirin (53) mengemukakan, sejak tahun 2009/2010 PT Pindad (Persero) telah memesan knalpot untuk tank-tank milik TNI. Jumlah permintaan memang tidak banyak, rata-rata 150 buah knalpot per tahun atau tergantung pesanan pembuatan tank oleh TNI kepada PT Pindad.
“Pada tahun 2011 ini, kami juga diminta oleh PT Pindad untuk memasok knalpot kendaraan tempur Panser Anoa 6 x 6 yang dipesan Malaysia dan Lebanon. Kami telah mengirimkan 11 unit knalpot panser Anoa Lebanon, dan 32 unit knalpot pesanan Panser Malaysia. Knalpot itu lengkap termasuk bagian mufler (kendang knalpot) dan exhause (pipa pengeluaran) ,” kata Muhajirin, Jum’at (01/04/2011).
Panser Anoa 6 x 6 sejenis kendaraan tempur pengangkut personil atau APC (Armoured personal carrier) dengan sistem penggerak 6 roda simetris. Sebelumnya, Muhajirin secara rutin memasok mufler knalpot untuk jenis kendaraan panser mortir, panser recovery, panser Anoa-2, dan Panser tentara Malaysia. Semua pasokan atas permintaan PT Pindad. “Setidaknya kami telah mengirimkan 300 unit knalpot untuk kendaraan tank dan panser yang digarap PT Pindad. Dalam waktu dekat, kami juga tengah diminta memasok lagi knalpot untuk tank-tank model baru yang akan dibuat untuk memperkuat kendaraan TNI,” kata Muhajirin yang telah menekuni usaha knalpot sejak usia 30 tahun.
Dipilihnya knalpot Purbalingga, jelas Muhajirin, karena kualitas garapan yang baik dan mampu meredam suara. Muhajirin mengungkapkan, dirinya suatu ketika diundang ke PT Pindad di Bandung dan mengecek knalpot buatan pabrik. Setelah knalpot yang hendak dipasang di kendaraan tank, dibelah ternyata berbeda dengan knalpot garapan IKM di Purbalingga. Muhajirin ketika itu diminta mengirimkan membuatkan knalpot dan mengirimkan sampelnya.
“Ketika itu saya katakan, knalpot buatan Purbalingga, mampu meredam suara bising, tenaga lebih kuat dan mampu lebih menghemat bahan bakar. Pihak PT Pindad tidak percaya begitu saja. Namun, setelah melakukan ujicoba dengan mengganti knalpot Purbalingga dan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di Jabar, PT Pindad baru mulai percaya. Akhirnya, kami dipercaya memasok knalpot untuk tank TNI,” kata Muhajirin yang kini memiliki 18 orang karyawan.
Dijelaskan Muhajirin, knalpot kendaraan tank dan panser harus dibuat kuat dengan besi galvanis ukuran 1,6 mm. Berbeda dengan knalpot mobil biasa. Satu unit knalpot panser rata-rata berukuran 90 x 70 cm. Setiap lembar besi galvanis mampu untuk membuat tiga buah mufler knalpot. ”Harga satu unit knalpot lengkap sekitar Rp 5 juta, sedang bagian mufler berkisar antara Rp 700 ribuan,” kata Muhajirin
http://banyumasnews.com/

Sandal Limbah Tempurung Made In Purbalingga


PURBALINGGA – Alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Namun, perajin tempurung di Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga (Jateng) menciptakan model sandal dari tempurung. Sisa-sisa potongan tempurung yang digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, tidak dibuang namun di perhalus dan direkatkan satu persatu membentuk sandal. Unik bukan?
Meski berbahan dasar sebagian besar dari tempurung kelapa, namun bagian alas sandal tetap menggunakan bahan karet atau plastik, sesuai selera konsumen. Sementara bagian pengikat kaki, juga sama dengan sandal lainnya. Tempurung hanya digunakan pada pelapis alas sandal.
Harga sepasang sandal ini juga tidak begitu malah. Cukup Rp 25 ribu, untuk ukuran apa saja. Model sandal ini ternyata justru diminati konsumen dari luar kota seperti Jakarta, bandung dan Bali. Sementara di penjualan lokal, tidak begitu banyak dikenal. Boleh jadi, sandal tempurung buatan Purbalingga ini justru lebih banyak diketahui bukan berasal dari Purbalingga.
”Kebanyakan pesanan sandal tempurung untuk souvenir. Selain itu juga sejumlah pedagang dari luar kota seperti dari Bali, Jakarta dan Bandung, memesan sandal tempurung dari kami,” kata Unardi (40) perajin tempurung yang tinggal di RT 1/I Purbalingga Wetan.
Unardi mengungkapkan, ide membuat sandal tempurung sebenarnya datang begitu saja. Ketika mengetahui banyak potongan sisa tempurung yang telah dibuat berbagai macam kerajinan. Daripada potongan tempurung kecil-kecil tidak dipakai, lantas dimanfaatkan dengan cara dirangkai secara vertikal dan direkatkan dengan rem.
”Kami juga terus didorong oleh Disperindagkop untuk terus membuat produk-produk yang unik dan belum ada di masyarakat. Seperti sandal tempurung, juga meja tempurung, tempat tisue, kap lampu, asbak, tempat minuman dan sejumlah produk lainnya,” kata Unardi yang dibenarkan Sutrisno, ketua kelompok perajin tempurung ’Manunggal Karya’.
Kelompok Manunggal Karya kini memiliki anggota 42 orang. Setidaknya ada 34 macam hasil kerajinan yang diproduksi dan dijual ke pasaran di sejumlah kota besar. Hasil kerajinan ini sebagian besar untuk keperluan rumah tangga seperti irus, centhong, sendok kayu kelapa, piring kayu, ciri dan penghalus sambal, jam tempurung dan sebagainya. Bahan dasar yang digunakan selain limbah tempurung, juga potongan kayu kelapa (glugu), dan potongan kayu melinjo.
”Kami secara terus menerus mendapat dukungan promosi dari Pemkab Purbalingga melalui Disperindagkop, dan juga melalui Bank Jateng,” kata Sutrisno sembari menambahkan, pekan lalu juga diundang dalam ulang tahun Bank Jateng untuk memamerkan hasil produksinya.
Kepala Bidang Perindustrian pada Disperindagkop Purbalingga Drs Agus Purhadi Satyo mengatakan, Pemkab terus mendukung para perajin tempurung di kelurahan Purbalingga Wetan dengan melakukan fasilitasi berbagai hal. Pemkab telah mencoba mendukung pameran produk, bantuan bengkel kerja, dan studi banding ke perajin lainnya sebagai upaya menambah wacana (BNC/tgr)

http://banyumasnews.com

‘Gidro’, Tarian Baru Banyumasan Asal Purbalingga

Written By abah lc on Friday, February 10, 2012 | 2:03 PM

PURBALINGGA, HUMAS - Grup calung Wisanggeni binaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Kabupaten Purbalingga (Jateng) meluncurkan tarian terbarunya berjudul Tari “Gidro”. Di Purbalingga, tari lengger Banyumasan yang diciptakan oleh pemilik grup calung Wisanggeni, Susiati, di pentaskan pada acara lepas sambut kapolres Purbalingga di Pendopo Dipokusumo, Selasa (7/2). Tarian ini juga sempat dipertontonkan secara kolosal pada peringatan hari jadi Kabupaten Pemalang, Kamis (26/1) silam.
“Gidro dalam bahasa lokal banyumasan berarti berjingkrak-jingkrak. Lebih cenderung diartikan gerak meloncat-loncat untuk mengungkapkan rasa senang,” kata Susiati usai pementasan di Pendopo Dipokusumo.
Tari Gidro, lanjutnya, merupakan sebuah tari yang berisi ungkapan kegembiraan sekelompok masyarakat Purbalingga. Meski gerakannya dinamis sebagaimana jenis tarian lenggeran lainnya, namun gerak para penari yang di tunjukan, melambangkan rasa syukur atas rizki yang melimpah sehingga dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
“Dengan tarian ini, masyarakat Purbalingga berharap hidupnya senantiasa dalam
kemakmuran sekaligus selalu damai hatinya,” jelasnya.
Sebelumnya, grup calung Wisanggeni telah banyak menyumbangkan kreasi seni tari banyumasan bagi dinia seni Purbalingga. Diantaranya tari Ngoser, Pringgetan, dan Lenggasor. Yang terakhir yakni tari Lenggasor bahkan telah banyak dipentaskan di forum regional hingga di tingkat nasional. “Tari Gidro yang dimainkan oleh 5 orang penari, akan terus kita promosikan sebagai duta seni kabupaten Purbalingga. Mudah-mudahan
akan sukses sebagaimana kreasi tarian sebelumnya,” kata Kabid Kebudayaan Dinbudparpora Drs Sri Kuncoro. (Humas/Hr)
http://www.purbalinggakab.go.id/berita/gidro-tarian-baru-banyumasan-asal-purbalingga

7 Film Dokumenter dari Purbalingga Masuk Finalis StoS

Written By abah lc on Thursday, February 9, 2012 | 10:00 PM

Sebanyak tujuh film pendek dokumenter dan fiksi dari Purbalingga Jawa Tengah berhasil menjadi finalis di ajang South to South (StoS) Film
Festival 2012. Semua film yang di sutradari oleh pelajar tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa tersebut, empat diantaranya film dokumenter dan tiga film fiksi pendek.
Film yang masuk finalis StoS adalah “X(Kali)” sutradara Ayun Endrayanto, “Dari Kolong Ibukota” sutradara Benny Benke, “Mata Buruh” sutradara Nanda Dian Sari, “Trima Hidup Apa Adanya” sutradara Bowo Leksono, “Kado Suket” sutradara Puspa Juwita, “Kalung Sepatu” sutradara Dwi Astuti, dan “Sarung” sutradara Anis Septiani.
"Saya sangat gembira dan tidak menyangka, bisa masuk finalis sebuah festival film. Sebagai pelajar SMA saya ingin banyak belajar dari lingkungan kemudian coba-coba diangkat dalam film," kata sutradara film “Mata Buruh” Nanda Dian Sari, dalam rilisnya Selasa (7/2).
Subyek dalam film dokumenter "Mata Buruh" bercerita tentang buruh bulu mata palsu yang tidak mendapat jaminan kesehatan dengan baik,"jelas mahasiswa Fisip Unsoed Purwokerto.
Sementara pegiat Cinema Lovers Community (CLC) Muhammad Febrianto menambahkan, dengan banyaknya film Purbalingga yang menjadi finalis menandakan banyak pula isu yang diangkat ke dalam medium film yang sesuai dengan festival ini. “StoS Film Fest memfokuskan esensi isu lingkungan, baik dikemas melalui sudut politik, sosial, budaya, dan ekonomi,” katanya.(A-99/A-107)***
pikiran-rakyat.com

Jalan Purwokerto-Purbalingga Rusak

BANYUMAS- Warga Desa Silado berinisiatif menanam pohon pisang di ruas jalan alternatif Purwokerto-Purbalingga yang berlubang, beberapa waktu lalu.
Akibat kerusakan tersebut, jalan tersebut rawan kecelakaan saat jam sibuk. Salah satu Warga Silado, Mustofa, mengatakan sudah terjadi banyak kecelakaan di ruas jalan tersebut. Selain kecelakaan, lubang menganga sedalaman sekitar 15 centimeter, juga membuat sepeda motor cepat rusak.
’’Beberapa waktu lalu ada kecelakaan di jalur itu. Kecelakaan tersebut dialami warga desa kami (Silado-red) juga. Selain kecelakaan, saat melewati lubang tersebut ban motor bisa bocor,’’ katanya, kemarin.
Dia berharap pemerintah bisa menyelesaikan masalah jalan berlubang di wilayah Silado. Dari pengamatan Suara Merdeka, Senin (6/2), jalan berlubang juga ditemui di Desa Karangturi, Kecamatan Sumbang.
berdekatan
Kasi Pemerintahan dan Pembangunan Desa tersebut, Suharto, mengatakan lubang tersebut sudah tiga bulan lebih tidak mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Padahal, jalan tersebut termasuk jalan provinsi. Dia menambahkan, pemerintah desa sudah berkali-kali meminta agar dua lubang yang berdekatan di wilayah tersebut bisa diperbaiki.
’’Tetapi sampai saat ini belum ada penanganan, padahal kami sudah memberitahukan ke pemerintah beberapa kali. Dari desa juga sudah melakukan berbagai usaha seperti pengecoran lubang tersebut dengan semen, tetapi tetap kalah karena beberapa waktu lalu hujan dan membuat rusak cor tersebut,’’ paparnya.
Menurut Suharto, beberapa kali warga mengeluhkan keberadaan lubang tersebut karena banyak kecelakaan tunggal di wilayah tersebut. Jalan alternatif Purwokerto-Purbalingga tersebut menjadi salah satu jalur yang ramai kendaraan karena sering dilewati pekerja asal Purwokerto yang bekerja di pabrik Purbalingga.
’’Kecelakaan paling sering terjadi di jam-jam sibuk berangkat kerja mulai pukul 06.00-09.00 dan juga jam selesai kerja mulai pukul 16.00-19.00. Kami berharap pemerintah bisa memperbaiki jalan alternatif di wilayah kami untuk meminimalisasi kecelakaan," paparnya. (K10-63)

-suara merdeka-

Entertainment

Lifestyle

 
Support : Copyright © 2011. purwokerto dan sekitarnya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger